Utang Rasa

Selamat jalan, Danar
Perempuan itu sudah pergi. Seperti embun pagi yang tak bersuara menguap dari dedaunan, Danarti Wulandari meninggalkan kita tanpa banyak gaduh. Tapi jejaknya—yang kadang tak kita sadari ketika ia hadir—justru terasa makin jelas saat ketiadaannya mulai mengendap dalam benak.
Ia perempuan yang tenang, lembut, dan baik, tapi siapa yang tahu bahwa di dalam dirinya menyala api: semacam nyala batin yang tak memerlukan sorotan lampu untuk menyatakan keberadaan.
Kita hidup di zaman yang gaduh. Segala hal harus diucapkan, disiarkan, diklaim dan di-like. Tapi Danarti tidak begitu. Ia bukan dari generasi yang percaya bahwa eksistensi ditentukan oleh frekuensi kemunculan. Ia hadir dengan cara lain: membantu dalam senyap, memikul dalam diam, dan mencintai dengan perbuatan.
Bahkan kepada Papua, sebuah tanah yang jauh dari pusat wacana dan kuasa, ia memberikan cintanya secara penuh—bukan dalam slogan, tapi dalam kehadiran yang panjang dan konsisten.
Saya tahu banyak Danarti, melalui potongan-potongan kenangan yang kini mengapung seperti serpih cahaya dalam air. Tapi dari serpihan itu, muncul sosok seorang teman yang tak pernah menuntut balasan.
Ia semacam oase, tempat orang-orang bisa datang, duduk, dan merasa diperhatikan. Kita jarang menyadari pentingnya orang seperti itu, sampai mereka tak lagi di sana.
Dalam dunia yang begitu sering dibakar oleh ego, ambisi, dan kekuasaan, orang seperti Danar adalah pengecualian yang menyejukkan. Dan seperti semua pengecualian, kepergiannya membuat dunia ini terasa kembali menjadi biasa: lebih keras, lebih kosong, dan lebih sepi.
Danarti Wulandari merupakan bagian dari Read Book – INSIST Press. Ia adalah penulis artikel (bersama Toto Rahardjo) “Sekolah Lapang: Sekolahnya Petani”, dalam WACANA: Jurnal Ilmu Sosial Transformatif 15 (IV), Pendidikan Populer: Dekolonisasi Metodologi (2003),
Ia juga penyunting buku (bersama Hary Prabowo) “Kuba Melawan Revolusi Hijau” (Peter Michael Rosset dan Medea Benjamin; penerj. Imam Maulana, 2005), Penyunting (bersama Hadi Wahono [alm.]) “Dusta Industri Pangan: Penelusuran Jejak Monsanto” (Isabelle Delforge; penerj. Sonya Sondakh, 2005).
Saya tidak hendak membuat kultus dari kenangan. Tapi jika ada yang pantas dikenang dari seorang manusia, bukanlah karena gelarnya, pencapaiannya, atau warisan materinya. Melainkan karena ia pernah membuat dunia ini sedikit lebih baik, sedikit lebih lembut, dan sedikit lebih adil, meski hanya dalam lingkar kecil kehidupan sehari-hari.
Danarti Wulandari sudah pergi. Tapi mungkin, seperti nyala lilin yang redup perlahan, cahayanya tetap tinggal dalam mata mereka yang pernah disapanya, disentuh kebaikannya, atau sekadar menerima senyumnya.
Selamat jalan, Danar. Semoga api kecil yang kau jaga dalam dirimu kini berpadu dengan cahaya yang lebih besar, di tempat yang tak lagi mengenal perpisahan.[]
Toto Rahardjo
Nitiprayan, 28 Juli 2025

Leave a Reply