‎Umpak Cakar Bumi Langit

Umpak cakar bumi-langit memberi pelajaran penting bahwa intelektualitas yang sundul langit tak akan berguna, tanpa kemampuan (kecerdasan emosi) membumikannya.

Toko Buku INSIST menjadi bagian penting dalam ekosistem Kampus Perdikan. Toko berada di dalam  bangunan klasik nan estetik itu, bertembok batu bata merah, berhias rak buku, dan berpilar balok jati yang, di bagian ujung bawahnya, terdapat umpak berbentuk cukup unik.

Di antara ornamen di dalam Toko Buku INSIST, terdapat satu objek menarik: umpak besi bermodel cakar bumi-langit. Sepintas, ia instrumen bangunan pada umumnya. Namun berpintas-pintas, umpak ini terasa tidak umum, bahkan seperti memberi pelajaran penting dalam spektrum yang lebih luas.

‎Umpak adalah bagian bawah tiang yang berfungsi sebagai penopang, penyangga, sekaligus penghubung antara pilar saka dengan tanah. Dalam konstruksi, umpak disebut sebagai landasan yang menopang beban bangunan, untuk kemudian men-distribusikan beban itu ke tanah.

Umpak menjadi perantara yang menghubungkan pilar dengan tanah.
Sebagai penghubung pilar dengan tanah, umpak seperti bertugas memastikan pilar tak menggencet (menusuk) bidang tanah di bawahnya. Sehingga tanah tak berlubang (luka) karena tergencet pilar.

Semiotika Umpak Cakar Bumi Langit

Jika pilar diibaratkan spektrum intelektualitas yang sundul langit, maka tanah ibarat kebermanfaatan hidup masyarakat akar rumput. Agar intelektualitas tak memicu chaos pada kehidupan akar rumput, maka dibutuhkan umpak penyelaras.

Umpak besi ini tidak hadir tanpa membawa pesan. Ia jelas membawa sebuah pelajaran. Umpak besi bermodel cakar bumi-langit ini, membawa pesan semiotis: penghubung intelektualitas yang sundul-langit dengan kecerdasan emosi yang membumi.

Pilar Intelektualitas

Kampus Perdikan INSIST sebagai lembaga pendidikan tinggi non formal, memiliki pilar-pilar berupa sekolah metode pendidikan Transformasi Sosial. Sekolah-sekolah yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia ini, dikenal dengan nama Sekolah Transformasi Sosial (STS) — simpul yang menjadi identitas jaringan Kampus Perdikan INSIST.

‎Para Pendiri dan Begawan Kampus Perdikan, telah menyusun dan menanam pakem pelajaran wajib bagi STS yang ada di berbagai wilayah. Pelajaran wajib yang juga dikenal dengan “6 Rukun INSIST” ini, di antaranya adalah: Analisis Sosial, Pengorganisasian Masyarakat, Citra Diri, Pendidikan Populi, Pengembangan Organisasi, dan Advokasi. 

1.  Analisis Sosial
Analisis Sosial menjadi pelajaran penting sekaligus pilar saka di tiap simpul-simpul STS yang ada di seluruh Indonesia. Pada awal pembentukan STS, pelajaran Analisis Sosial ini disusun, dibina, dibimbing, dan dipandegani secara langsung oleh almarhum Mansour Fakih (1953 – 2024),  pendiri dan Begawan INSIST.

2.  Pengorganisasian Rakyat
Pengorganisasian Rakyat (Pengorganisasian Masyarakat) menjadi pelajaran penting berikutnya. Bidang ini menjadi kompetensi utama para alumni Kampus Perdikan. Pada awal pembentukan STS, pelajaran Pengorganisasian ini disusun, dibimbing, dan dibidangi secara langsung oleh Roem Topatimasang, yang juga pendiri dan Begawan INSIST.

3. Pendidikan Populi
Pendidikan Kerakyatan atau Popular Education (Populi Education) menjadi salah satu pelajaran wajib sekaligus penting yang ada di Kampus Perdikan INSIST. Pada awal pembentukan STS, Populi Education ini dibimbing dan dipandegani secara langsung oleh Toto Rahardjo, yang merupakan Dewan Guru dan Begawan INSIST.

‎4. Citra Diri
Psikologi Aktivisme (Citra Diri) menjadi pelajaran pertama yang akan diajarkan pada para peserta. Sebab, Citra Diri jadi pintu (penentu) berbagai tahap yang akan dilewati para peserta. Pada awal pembentukan STS, pelajaran Citra Diri ini disusun, dibimbing, dan dipandegani secara langsung oleh Noer Fauzi Rachman, yang merupakan Dewan Guru dan Begawan INSIST.

‎5. Pengembangan Organisasi
Pelajaran tentang pengembangan organisasi (kelembagaan) menjadi pelajaran berikutnya. Pelajaran ini berperan penting sebagai penentu laju organisasi. Pada awal pembentukan STS, pelajaran ini disusun, dibimbing, dan dipandegani langsung Ahmad Mahmudi, yang merupakan Dewan Guru dan Begawan INSIST.

6.  Advokasi
Intervensi terhadap kebijakan publik (advokasi) menjadi pelajaran penting bagi para peserta didik Kampus Perdikan INSIST. Sebab, jadi tolok ukur seberapa kompeten para aktivis.  Pada awal pendirian STS, pelajaran ini dipandegani mayoritas para Dewan Guru; baik itu Mansour Fakih, Roem Topatimasang, Toto Rahardjo, Noer  Fauzi Rachman, maupun Ahmad Mahmudi.

Umpak Penyelaras

‎Di Kampus Perdikan, penajaman intelektual memang sangat ditradisikan. Namun, pilar-pilar intelektual tak akan pernah punya arti apa-apa, jika tak membawa manfaat yang membumi. Karena itu, dibutuhkan umpak sebagai “penyelaras” pilar intelektual dengan pemahaman yang membumi bagi akar rumput. Dan Kampus Perdikan adalah umpak penyelaras itu sendiri.

Para Dewan Guru dan Begawan Kampus Perdikan selalu ngendikan, berpesan, dan bahkan telah menanamkan: “tak ada kegenitan intelektual bagi para pandu transformasi sosial”. Kampus Perdikan mengajarkan bagaimana merengkuh langit, untuk kemudian membumikan dan mengakar-rumputkannya secara sunyi dan elegan.

Sebagai penyelaras, umpak menjamin agar titik temu antara pilar dan tanah penopang berjalan harmonis. Begitupun Kampus Perdikan, menghubungkan dan menyesuaikan berbagai elemen intelektualitas terhadap respon dan pemahaman akar rumput, sehingga bermacam intervensi intelektual, bisa menjadi jalan baru, lahirnya transformasi sosial.

Melalui keberadaan umpak besi cakar bumi langit ini, selama berdekade-dekade, Kampus Perdikan IINSIST telah mengajarkan perihal sangat penting: bahwa intelektualitas yang sundul langit tak akan berguna, tanpa kemampuan (kecerdasan emosi) untuk membumikannya. (WR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top