Belajar Berteori, Mulai dari Catatan Lapangan

Pekerja lapang harus buat catatan, baik berupa kronik peristiwa, sketsa situasi, foto, potongan video, atau rekaman suara. Kita perlu membuat sebagian catatan lapangan itu bisa dibaca teman sekerja dan didiskusikan.
Bagus bila dirancang forum khusus membaca dan mendiskusikan catatan lapangan. Apa yang akan dibaca dan didiskusikan adalah catatan-catatan lapangan, baik yang terdahulu maupun yang terbaru.
Tanpa catatan dari lapangan kita tidak akan tahu apa-apa yang sedang berlangsung di lapangan yang meliputi perilaku dan peristiwa-peristiwa, serta situasi-situasi yang dihadapi manusia di berbagai tempat di Nusantara, baik di pusat-pusat pengambilan keputusan hingga pinggiran pelosok pedalaman.

Catatan lapangan yang hendak dibicarakan di forum ini adalah kenyataan mikro, khusus dan kongkrit. Tanpa kedekatan dengan kenyataan, pelajaran dan pengajaran hal-hal yang makro, umum dan abstrak bukan hanya membuat kita salah menggolongkan apa yang sedang terjadi, lalu jadikan kita gagap dalam mendiagnosa dan anjuran-anjuran kita merupakan pengeras suara dan juru bicara teori.
Karena kita adalah palu, semua kelihatan sebagai paku dan bukan paku. Bahayanya, yang bukan paku digolongkan sebagai paku. Ini awal dari kolonisasi pengetahuan, yang menuju pada kolonisasi profesional.
Padahal yang diperlukan adalah sebaliknya: kecakapan membuat kontekstualisasi, generalisasi, dan abstraksi dari kenyataan. Yakni: menempatkan hal-hal mikro dalam konteks yang makro, melihat hal-hal khusus dengan gejala yang umum, menghadapkan hal-hal kongkrit dengan rumusan yang abstrak.
Kita harus memberi kesempatan pada para pekerja lapang agar bisa menempuh jalan berteori.
NFR, Jayapura, Papua, 15 Juli 2025

Leave a Reply