Pancaroba Pancaindra

Mengembalikan fungsi pancaindra di tengah pancaroba dunia pendidikan.
Manusia dilengkapi pancaindra yang berfungsi menerima dan merespons rangsangan dari lingkungan. Di antaranya indra penglihatan (mata), pendengaran (telinga), penciuman (hidung), perasa (lidah), dan peraba (kulit). Sementara kemampuan menerima informasi (sensasi) yang tak dapat dijelaskan pancaindra, dikenal sebagai indra keenam.
Realitas dunia pendidikan hari ini, tak begitu mengakomodir keistimewaan pancaindra. Namun hanya fokus memaksimalkan penglihatan (baca buku) dan pendengaran (mendengar khotbah) saja. Padahal, banyak fakta bisa diketahui tak sekadar hanya lewat mata dan telinga.
Tak terakomodirnya semua pancaindra, berdampak pada hilangnya sisi keunikan dan keistimewaan individu. Padahal, setiap individu sudah sepatutnya memiliki keunikan yang harus dikembangkan. Metode yang tak mengakomodir pancaindera, mendorong semua siswa untuk jadi robot dengan keahlian yang sama: sekadar jadi pekerja.
Industrialisasi dunia pendidikan saat ini, seperti tak memberi ruang terhadap alam sekitar di dalam kurikulumnya. Alih-alih memahami keunikan tempat tinggalnya, mereka justru kian menjauh dari tempat di mana mereka berada. Hal ini tentu juga jadi masalah berikutnya.
Para Dewan Guru Kampus Perdikan, utamanya Pak Roem Topatimasang, selalu berpesan bahwa semua pancaindera amat penting untuk selalu diasah. Dengan menggunakan semua pancaindra, kepekaan justru akan terbangun. Terutama dalam menggali, mencari, dan mendapatkan data-fakta yang ada di lapangan.
Transect
Satu di antara metode penelitian yang diajarkan Kampus Perdikan adalahTrans Setoral (transect), sebuah metode penggalian data di lapangan. Selama ini, metode pencarian data kerap dilakukan dengan angket dan wawancara, bahkan sekadar minta lembaga desa. Metode demikan, adalah jenis pencarian data konvensional yang kadang tak kontekstual. Transect, menggabungkan metode-metode konvesional itu sebagai pelengkap dan penguat data.

Transect merupakan proses perjalanan dari titik A ke titik B, dalam rangka menggali dan mencari data. Pasang mata, pasang telinga, pasang penciuman, pasang perasa, dan pasang peraba jika diperlukan. Melakukan transect, berarti menggunakan semua pancaindra. Sebab selama ini, pengamatan lapangan, entah kenapa, selalu fokus pada kekuatan mata.
Pancaindra dalam Transect
Dalam transect, ketika kita tak menemukan apa-apa (secara fisik), tapi menemukan bau. Nah, dari bau itu, kita bisa menelusuri dan menemukan informasi baru. Ternyata ada anjing mati, misalnya. Dari informasi baru itu, kita bisa masuk ke ranah berikutnya: mampir ke rumah warga, bertanya kenapa ada anjing mati di sana.
Sampai tahap ini, kita sudah menggunakan proses melihat, mencium, mendengar, dan hasil dari proses itu tak lupa untuk dicatat. Saat masuk ke rumah warga tersebut, kita pakai indra yang lain, yaitu indra perasa (lidah). Misal saat disuguhin kopi dan rasanya manis. Tanya kenapa orang di sini kalau bikin kopi manis.
Jalan lagi, ketemu Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dan bidan, misalnya. Nah, kita bisa bertanya pada bidan tersebut, apakah warga di sekitar kampung ini banyak memiliki riwayat penyakit gula. Bagaimana data riwayat penyakit twrsebut di desa ini. Nah, ini data sangat penting.
Pak Roem bercerita, ia pernah masuk ke sebuah kampung, selama seminggu. Di sana, ia menemukan data unik. Setiap rumah yang dikunjungi, masakannya asin. Kemudian ia melakukan Investigasi. Pura-pura ikut ke dapur. Ternyata ia menemukan, mayoritas warga saat masak menggunakan banyak garam.
Saat ditanya kenapa, katanya biar bisa dimakan. Sebab di sana, daya beli warganya sangat kecil. Banyak yang bercerita tak bisa membeli lauk dan daging. Karena itu saat memasak harus memakai banyak garam, agar masakan tidak hambar dan punya rasa, minimal rasa asin. Nah, ternyata informasi yang dia dapat itu sangat penting. Setelah di-kroscek ke data-data kabupaten, kawasan yang dikunjungi Pak Roem itu banyak penderita gizi buruk.
Terkadang, saat melakukan transect, memang perlu melakukan bermacam laku pengamatan berbasis pancaindra. Berpura-pura mau pipis misalnya, hal ini bisa sekaligus dilakukan dalam rangka menentukan seberapa baik kualitas sanitasi masyarakat di kawasan itu. Siapa tahu dari situ, bisa menemukan kondisi dapur masyarakatnya.
Denah Sektoral
Sebelum mengadakan transect, para peneliti harus membuat semacam denah sektoral. Semacam perkiraan per sektor. Misal, satu sektor luasnya 50 meter persegi. Keberadaan denah sektor ini penting untuk membuat kuadran pengamatan. Sehingga laju transect dilakukan per-sekotral.

Setelah transect (melakukan pengamatan) di kuadran satu, para peneliti bisa melanjutkan transect ke kuadran berikutnya. Masing-masing kuadran sektoral dicari objek-objek tertentu saja. Sehingga proses pengamatan bisa fokus dan memiliki kualitas amatan.
Misal di sector 1 fokus amatan hanya tumbuhan. Perhatikan tumbuhan saja. Bukan lain. Di sektor dua fokus pada hewan saja. Di sektor tiga fokus sanitasi lingkungan. Di sektor 4 fokus pada kondisi fasilitas publik; balai desa, polindes, posyandu, dll.
Dengan adanya amatan berbasis sectoral, data yang didapat pun semakin fokus. Para Dewan Guru di Kampus Perdikan sangat merekomendasikan metode transect sebagai cara penggalian data. Kegiatan transect sangat disarankan untuk dilakukan dalam rangka pengambilan dan penggalian data.
Pancaroba Pancaindra
Masalah utama industrialisasi dunia pendidikan hari ini adalah, pendidikan seperti bertujuan untuk menjadikan seseorang seperti keinginan khalayak umum. Akibatnya, apa yang dianggap baik untuk kita akan baik pula untuk orang lain, padahal belum tentu begitu.
Pendidikan seperti menjauhkan manusia dari tempat mereka hidup. Buktinya, tak ada sekolah yang mengajarkan kearifan lokal terkait tempat di mana sekolah itu berada. Alih-alih membangun kedekatan, para siswanya justru menjauh dari tempat di mana mereka hidup dan berada.
Tak terakomodirnya kearifan lokal, menjadikan pembelajaran hanya fokus pada kegiatan membaca buku (melihat) dan mendengar (ceramah) saja. Artinya, fungsi pancaindra yang lain, yang harusnya mampu memperkuat kecerdasan emosi, tak dilatih dan tak pernah diikutsertakan dalam proses pembelajaran.
Bukan kebetulan jika kecerdasan emosi menjadi perihal paling urgent di tengah kemajuan teknologi. Sebab, selama ini, fungsi-fungsi pancaindra pembentuk kecerdasan emosi banyak yang tak dilibatkan dalam penyusunan kurikulum pendidikan. Karena itu, celah paling bolong dalam kemajuan teknologi ini adalah kecerdasan emosi. (WR)

Leave a Reply