Pendidikan Pengorganisasian bersama LBH Yogyakarta

Sejumlah perwakilan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) yang dikordinir LBH Jogjakarta, mengadakan Pendidikan Pengorganisasian di Kampus Perdikan INSIST. Pendidikan bertajuk “Penguatan Kapasitas Pengorganisasian dan Advokasi” ini, digelar di Kampus Perdikan selama empat hari: 13 – 17 Juli 2025.
LBH merupakan organisasi kemasyarakatan yang secara khusus bertugas memberikan bantuan hukum pada pemohon yang merupakan golongan tidak mampu secara finansial dan ketidakadilan struktural. LBH memperjuangkan hukum agar dapat merangkul semua kalangan dan memberi keadilan. Tanpa memandang ras, golongan, maupun status sosial ekonomi.
Gerak dan kegiatan LBH, merupakan aktivisme yang sangat dekat dengan proses pengorganisasian rakyat. Atas alasan itu, sejumlah perwakilan LBH dari Jawa, Bali, Makasar, Padang, dan Lampung — dengan dikordinir LBH Jogjakarta — mengadakan pendidikan intensif di Kampus Perdikan INSIST.
Berproses di Kampus Perdikan
Para peserta yang berjumlah 17 orang, mulai mengikuti pembelajaran sejak Senin, 14 Juli 2025 dan berakhir pada Kamis, 17 Juli 2025. Para aktivis LBH tersebut, mengikuti tiga tahap pembelajaran Kampus Perdikan; Kelas Teori, Penugasan Lapangan, dan Kelas Refleksi.
Di antara Dewan Guru yang melakukan pembibingan secara intensif adalah para aktivis senior seperti; Marsen Sinaga, Hari Prabowo, dan Dony Hendrocahyono. Selain itu juga para sesepuh Kampus Perdikan INSIST: Toto Rahardjo dan Roem Topatimasang.

Kampus Perdikan selalu menekankan perbedaan antara istilah “pelatihan” dan “pendidikan”. Pada pendidikan, terdapat proses peningkatan keterampilan dan potensi pengetahuan, serta penumbuhan sikap luhur yang menjadi “nyawa” seorang aktivis.
Di antara ciri khas ekosistem pendidikan Kampus Perdikan, adalah kedekatan dengan alam dan akar rumput. Maka sudah menjadi tradisi bahwa tiap mengawali pembelajaran, para peserta akan diberi satu tema pembahasan, untuk kemudian diminta melakukan ritual “jalan-jalan” mengelilingi kolam, di belakang aula Kampus Perdikan.

Kegiatan Tawaf Kosmologis dengan mengelilingi kolam ini, menjadi medium konjungsi energi yang menghubungkan para peserta dengan kosmos alam sekitar. Baik dengan mikro tetumbuhan dan faunanya, maupun makro pepohonan dan manusia-manusianya. Ini dimaksudkan untuk mempermudah mendapatkan ide refleksi.
Sambil berjalan mengelilingi kolam, para peserta juga membawa pulpen dan buku, untuk mencatat segala hasil refleksi yang terlintas di dalam benaknya. Catatan-catatan itulah, yang di kemudian sesi, akan dipresentasikan, didiskusikan, dan didialektikakan bersama.
Malam Pengendapan

Malam pengendapan menjadi momen pembelajaran khusus di Kampus Perdikan INSIST. Setelah seharian — dari pagi sampai sore — menyelami kedalaman teori dan ketegangan diskusi, malam harinya terdapat obrolan santai sebagai tahap pengendapan materi.
Malam Pengendapan menjadi penting sebagai pengikat sekaligus simpul pengingat, agar apa yang telah dipelajari selama pagi hingga siang, tidak menguap begitu saja. Malam Pengendapan juga jadi momen memperkuat tali kesepahaman visi, dalam memahami bermacam dinamika teori.
Nobar dan Diskusi

Selain Malam Pengendapan, Kampus Perdikan juga menerapkan metode nonton bareng (nobar) film, menjelang akhir masa pembelajaran. Biasanya agenda ini dilakukan sehari sebelum acara pembelajaran ini ditutup. Dalam khazanah Kampus Perdikan, nobar bukan sekadar mencari hiburan, tapi semacam suplemen pengetahuan.
Karena itu, film-film yang diputar di Kampus Perdikan INSIST bukan sekadar film menawarkan hiburan. Melainkan film-film yang memuat dan mengusung makna-makna aktivisme, pengorbanan, perjuangan, dan tentu saja, keberpihakan pada nilai-nilai keadilan, seperti No Regret for Our Youth dan Seven Samurai (Akira Kurosawa).
Kampus Perdikan percaya, peningkatan pengetahuan bisa didapat dengan beragam cara. Tidak hanya sekadar melalui membaca buku-buku teori dan kelas diskusi, tapi juga dari mendengar pengalaman dari orang lain, ataupun menonton film.

Leave a Reply