“Karena Belum Sanggup Makan Sawit”

Sambil mengelus-elus malay (tangkai bulir-bulir) padi yang hampir matang di tengah sawahnya yang tak seberapa luas (hanya sekitar 1 ha), lelaki tua itu berucap datar: “Karena saya belum sanggup makan (biji) sawit, maka saya akan terus menanam padi. Saya tak akan pernah mengganti tanaman padi saya dengan sawit.” Lelaki tua itu, Mbah Badri (76), adalah salah seorang dari tinggal sedikit warga di Teluk Dawan, Tanjung Jabung Timur, Jambi, yang masih setia mempertahankan lahannya tetap sebagai sawah, tidak tergoda mengubahnya menjadi kebun sawit yang marak di daerah tersebut sejak hampir dua puluh tahun terakhir.

Ya, tak sampai dua dasawarsa saja, bentang alam banyak desa di kawasan dataran rendah dan rawa gambut di Tanjung Jabung, Jambi, telah berubah sama sekali. Pada tahun 1980 sampai akhir 1990-an, desa-desa di sana dikenal sebagai salah satu penghasil padi dan pemasok beras ke daerah lain di Jambi. Sampai sekarang pun, wilayah Tanjung Jabung masih merupakan penghasil beras kedua terbesar (setelah dataran tinggi Kerinci dan Merangin) di provinsi bagian tengah Pulau Sumatera itu. Tapi, semuanya kini mulai berubah. Terutama sejak awal 2000-an, warga di sana seperti berlomba mengalih-gunakan (konversi) lahan-lahan pertanian pangan (termasuk dan terutama sawah padi) mereka menjadi kebun-kebun sawit. Di hampir semua desa di sana kini, kebun-kebun sawit membentang luas sejauh-jauh mata memandang sampai ke kaki langit. Bahkan, tanaman eksotis tersebut sudah menjarah sampai ke pekarangan rumah-rumah mereka.

palmoil village
Foto udara mutakhir (Maret 2018) dari salah satu desa (Jati Mulyo, Kecamatan Dengan, tanjung Jabung Timur, Jambi) di mana kebun sawit sudah menjarah sampai ke pusat pemukiman dan pekarangan rumah warga.

Semuanya bermula, segera setelah ‘reformasi’ sistem politik nasional pada awal 2000-an, ketika beberapa perusahaan besar dari luar memperoleh konsesi lahan dari pemerintah untuk membuka perkebunan besar kelapa sawit, selain juga ‘hutan kayu’ tanaman industri (HTI) untuk memasok pabrik pembuat bubur kertas (pulp). Pemerintah daerah bahkan membagi-bagikan gratis bibit kelapa sawit kepada warga setempat. Harga biji sawit masa itu memang sedang naik daun. Maka, warga di sana pun semakin tergiur. Bukan cuma lahan sawah padi mereka yang berubah menjadi kebun sawit, tapi juga merambah sampai ke kawasan hutan gambut sekitar desa-desa mereka.

Dan, inilah salah satu sebab mengapa kebakaran hutan semakin sering dan semakin luas terjadi di kawasan tersebut. Perusahaan-perusahaan sawit menggali ratusan, mungkin juga ribuan, saluran parit-parit (saking banyaknya, sampai orang di sana menyebutnya ‘kanal-kanal cacing’) untuk mengeringkan lahan dan rawa gambut –yang alamiahnya basah dan lembab itu– demi membuat tanaman sawit mereka dapat tumbuh dengan baik. Karena sawit adalah salah satu jenis tanaman ‘paling rakus air’ (mengisap rerata 14 liter per pohon per hari), lahan-lahan gambut itu pun menjadi kian kering dan mudah terbakar. Apalagi di musim kemarau. Gesekan antar ranting dan dedaunan kering, ditambah tiupan angin kering di hamparan luas yang sudah terbuka, sudah cukup untuk menyulut satu titik api yang kemudian menjalar secara sangat cepat. Sampai tahun 2015, Provinsi Jambi pun tercatat pada peringkat ke-4 (setelah Riau, Jawa Timur, dan Sumatera Selatan) dari 10 provinsi dengan bencana kebakaran hutan terluas dan terbesar. Selama lima tahun (2011-2015), luasan hutan gambut yang terbakar habis di Jambi mencapai 5,89 juta hektar (lihat tabel dan grafik).

Dampaknya, bukan hanya kerusakan parah ekosistem lokal, tapi juga kerugian ekonomis yang sangat mahal. Menurut perhitungan Bank Dunia, kebakaran besar hutan gambut di Jambi, pada tahun 2105 saja, telah membawa kerugian ekonomis sebesar AS$ 866 juta (Rp 11,2 triliun). Jumlah itu adalah 5% lebih dari total Produk Domestik Bruto (PDB) Jambi pada tahun yang sama. Padahal, menurut Bank Indonesia, PDB Jambi sebelum kebakaran besar tahun 2105 tersebut mampu mencapai rerata 8,7%. Setelahnya, Bank Dunia menghitung PDB provinsi hanya hanya mampu mencapai laju di bawah 6,3%. Secara keseluruhan (nasional), bencana besar kebakaran hutan tahun 2015 di seluruh Indonesia telah mengakibatkan kerugian ekonomis mencapai AS$ 16,1 miliar (Rp 221 triliun), dua kali lipat lebih besar dari seluruh biaya pembangunan kembali (rekonstruksi) Aceh pasca tsunami 2004 (World Bank Group, 2016, The Cost of Fire: An Economic Analysis of Indonesia’s 2015 Fire Crisis, Indonesia Sustainable Landscape Knowledge #1).

Sementara itu, laju alih-guna lahan pertanian pangan (sawah padi) menjadi kebun-kebun sawit masih terus berlangsung. Warga  banyak desa di sana yang semula mendapatkan beras dari sawah mereka sendiri, kini terpaksa harus membeli bahan pangan pokok itu yang diimpor dari provinsi lain. Kebutuhan beras di seluruh Jambi kini hanya mampu dipasok kurang dari seperempatnya (sekitar 24%) saja dari produksi setempat, terbesar (hanya sekitar 14%) dari desa-desa di dataran tinggi Kerinci dan Merangin. Sisanya dari desa-desa di Tanjung Jabung dengan produksi yang terus menurun akibat alih-guna lahan besar-besaran tadi. Dan, semakin sedikit orang yang teguh bertahan seperti Mbah Badri di Teluk Dawan, itupun kian terbatas hanya pada orang-orang tua seusia beliau. Orang-orang yang lebih muda di sana sebagian besarnya sudah meninggalkan sektor pertanian pangan di perdesaan, sebagian besar lebih meilih menjadi ‘kuli upahan di pabrik-pabrik dan perusahaan sawit, atau di sektor ‘krah putih’ di perkotaan.*

Hamparan kebun sawit (kanan) yang semakin meluas menjarah ke hamparan padang dan rawa gambut di Desa Jati Mulyo, Kecamatan Dendang, Tanjung Jabung Timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *