Selada Segar di Pulau Kecil

Bagi banyak orang, Negeri (Desa) Haruku yang terletak di Pulau Haruku (tetangga Pulau Ambon) di Maluku Tengah, lebih dikenal dengan tradisi ‘Sasi Lompa‘, ketentuan adat yang melarang menganggu atau menangkap ikan lompa (Thissinus baelama, sejenis sardin) selama jangka waktu tertentu. Biasanya berlangsung selama 9-10 bulan, lalu berakhir dengan acara ‘panen raya’ (buka sasi) ikan tersebut sebagai pesta rakyat tahunan yang unik dan meriah.

Tapi ada satu pemandangan baru tak kalah menarik di sana. Sekarang, kita bisa menikmati berbagai jenis sayuran segar, temasuk daun selada hijau dan merah, di Haruku. Selama ini, daun selada umumnya lebih merupakan tanaman sayuran di lahan basah di daerah-daerah yang jauh dari laut, misalnya di wilayah dataran tinggi.

Nah, kita sekarang bisa menyantap lalapan daun selada segar di Haruku, dipetik langsung bahkan pada saat makan. Tanaman sayuran segar itu tumbuh dalam jajaran puluhan polybags di atas dudukan rangka-rangka bambu dan balok-balok kayu atau bilah-bilah papan kasar di hamoir semua lahan pasir terbuka di seluruh kompleks Rumah Kewang (Balai Dewan Adat) Haruku seluas lebih 1 ha itu. Benito (Benny) Kissya, putra bungsu Kepala Kewang Haruku, Eliza Kissya, memprakarsai budidaya tanaman sayuran berbasis ruang di atas lahan kering itu. Setekah menikmati hasilnya yang bisa dipanen setiap saat, banyak warga Haruku mulai tertarik dan berniat mencontohnya. “Rencana saya,” kata Benny, “semua lahan terbuka di dalam kampung nantinya penuh dengan tanaman sayuran dan rempah bumbu dapur… semacam ‘Taman Sayur’, jauh lebih bermanfaat daripada ‘Taman Bunga’ yang hanya sedap dipandang mata, tapi tak sedap di mulut dan tak berguna untuk isi perut. Saya sudah mulai mengorganisir kelompok pemuda dan ibu-ibu untuk memulai ‘gerakan’ ini, mulai dari diri sendiri di tempat kita sendiri.”

Salah satu ‘Taman Sayur’ di ruang terbuka kompleks Rumah Kewang Haruku, di atas lahan pasir kering hanya sekitar 10 meter dari bibir pantai Selat Haruku.

Apa yang dikatakan oleh alumnus Pusat Pelatihan Pertanian OISCA Jepang di Sukabumi itu, meski terdengar ‘sederhana dan biasa saja.’ namun berkaitan dengan paling tidak dua hal penting dan mendasar. Pertama, dari segi teknis, menafikan tahayul tentang daerah lahan kering, apalagi di pulau kecil, yang tidak cocok untuk usaha budidaya pertanian. Kedua, sangat membantu memecahkan salah satu ‘masalah besar yang sering luput dari perhatian’: belanja rumah tangga yang semakin dan terus meningkat untuk membeli pangan, termasuk sesayuran.

Khusus tetang belanja pangan rumah tangga, data dasar (baseline) dari desa-desa yang sudah difasilitasi oleh tim faslitator jaringan INSIST, memperlihatkan bahwa belanja pangan warga masig berkisar rerata di atas 50% dari total belanja bulanan mereka, dan rerata sampai seperempat (sekitar 20-25%) dari belanja pangan itu adalah untuk membeli sesayuran dan rempah bumbu dapur. Tabel berikut memperlihatkan contoh dari 5 keluar yang berbeda tingkat pendapatan dan status sosial mereka di 5 desa yang juga berbeda di Jawa Barat, Jambi, NTT (Flores), Sulawesi Selatan, dan Papua.

Perbandingan belanja pangan dan sayuran dari 5 keluarga di 5 desa berbeda
di Jawa Barat, Jambi, NTT, Sulawesi Selatan, dan Papua.

Di salah satu desa contoh itu di Jambi, yang berpenduduk 153 keluarga, total nilai belanja sayuran mereka mencapai Rp 1,1 miliar per bulan, atau Rp 13,7 miliar per tahun. Angka ini lebih 10 kali lipat dari total penerimaan tahunan desa dari Alokasi Dana Desa (ADD). Ini baru belanja sayuran dan bumbu dapur saja, belum lagi belanja bahan pangan pokok (beras) yang seluruhnya mencapai Rp 60,5 miliar/tahun! Maka, siapa bilang ini persoalan kecil dan sepele?

Kesadaran akan pentingnya masalah inilah yang menggerakkan para perintis seperti Benny memprakarsasi tindakan kecil tapi nyata dan langsung di tengah masyarakat lokalnya. Dan, dia tidak sendirian. Semakin banyak prakarsa ‘gerakan sosial baru’ semacam itu mulai marak di mana-mana. Di Todmoden, satu kota kecil di Inggris, Mary Clear, sejak 2007, sudah menggerakkan warga sekotanya mengganti seluruh tanaman kota kecil mereka menjadi tanaman yang bisa dimakan. Ibu tua yang menamakan gerakannya ‘Pesona Semua Bisa Dimakan’ (Incredible Edible) itu sudah diteladani di lebih dari 80 kota di seluruh Inggris dan sekitar 500 kota lain di seluruh dunia (sumber: Valentine Thurn, 10 Billion: What We Will Eat Tomorrow?, film dokumenter 2018, 107 menit).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *