Menghitung Biomassa Karbon di Kawasan Gambut

Cadangan karbon yang tersimpan dalam eksosistem terrestrial adalah dalam bentuk biomassa mahluk hidup (tumbuhan dan hewan), bahan organik yang sudah mati, dan fosil. Hutan adalah kawasan penyerap dan penyimpan karbon dalam jumlah besar, tetapi dapat berubah menjadi sumber pelepasan (emisi) gas rumah kaca apabila tidak dikelola dengan baik. Karbon yang tersimpan dalam kawasan hutan dapat ditemukan: [1] di atas permukaan batang, daun, ranting, tumbuha herba; [2] di bawah permukaan akar; [3] kayu mati (necromass); [4] serasah; dan [5] karbon tanah.

Di lahan gambut, karbon tersimpan dalam jumlah paling besar adalah karbon tanah. Gambut dengan kedalaman 1 meter mempunyai kandungan karbon sekitar 600 ton/ha. Di Desa Jatimulyo, Tanjung Jabung Timur, Jambi, kedalaman gambut berkisar 2,5 – 8 meter, sehingga perkiraan cadangan karbon tersimpan di kawasan desa itu adalah antara 1.500-4.800 ton/ha.

Di desa yang praktis seluruh wilayahnya adalah lahan gambut itu, sudah dibangun 4 unit sekat parit (channel blocking) ukuran 5 meter dan 2 unit ukuran 8 meter. Salah satu tujuannya adalah untuk mencegah penurunan permukaan air tanah, agar lahan gambut sekitarnya tetap basah dan sulit terbakar, sehingga cadangan karbon yang tersimpan di lahan gambut tersebut tetap terjaga. Penurunan permukaan air tanah akibat rusaknya lahan gambut telah menyumbangkan pelepasan gas rumah kaca sangat besar, karena penurunan permukaan air tanah setiap 10 cm saja akan melepaskan 9,1 juta CO2 per hektar lahan per tahun.

Selama ini, kawasan lahan gambut di Desa Jati Mulyo, dan umumnya di seluruh wilayah Tanjung Jabung Timur dan Barat, adalah salah satu kawasan paling rawan kebakaran hutan, bahkan merupakan salah satu pusat kebakaran hutan terbesar yang pernah terjadi di daratan Sumatera. Inilah salah satu alasan Yayasan Mitra Aksi menyelenggarakan ‘Sekolah Lapang (SL) Pertanian Laha Gambut’ di Jati Mulyo dan beberapa desa lain di sekitarnya. Salah satu fokus utamanya adalah pengembangan cara-cara olah lahan tanpa praktik tebas-bakar (slash and burn). Setelah berlangsung selama hampir dua tahun, catatan-catatan lapangan para fasilitator dan pengorganisir Mitra Aksi di Jati Mulyo memperlihatkan beberapa data dan temuan menarik, antara lain, hasil ujicoba pada lahan peraga (demplot) seluas 1 ha. Cadangan karbon yang berhasil ditahan dan tidak melepas gas rumah kaca adalah 2,1 kg/ha, sementara CO2 yang terserap (dengan kata lain potensi pengurangan emisi CO2) adalah 7,705 kg/ha (lihat tabel).

Setelah mengikuti SL Pertanian Lahan Gambut, banyak warga Jati Mulyo dan desa-desa sekitarnya sekarang mulai mengolah lahan-lahan bekas kebakaran hutan menjadi lahan budidaya berbagai jenis tanaman, terutama tanaman semusim (sayuran, bebuahan, dan sebagainya). Di lahan-lahan yang sudah dan akan dimanfaatkan kembali tersebut, banyak ditemukan kayu mati yang berpotensi diolah menjadi arang. Salah seorang warga yang sudah mulai melakukannya adalah Pak Riyanto. Dia mengaku bisa menjual arang buatannya seharga Rp 30.000/kg. Dalam seminggu, dia bisa membuat sebanyak 50-100 kg arang (gambar bawah).

Selain sangat membantu mengurangi pelepasan gas-gas rumah kaca, mencegah maraknya kebakaran lahan dalam luasan besar, maka mengolah lahan gambut dengan cara-cara tepat-guna oleh warga setenpat juga membantu langsung mereka memperbaiki sumber-sumber penghidupannya. Sebenanrya, para warga di Jati Mulyo dan desa-desa sekitarnya di Tanjung Jabung adalah mereka yang paling berhak mendapatkan pengakuan, bahkan juga kompensasi dana dari hasil perdagangan karbon dunia. Jika yang terakhir ini belum mereka nikmati, maka langkah selanjutnya adalah menambah muatan kurikulum SL Pertanian Lahan Gambut dengan informasi dan pengetahuan tentang ‘politik ekonomi dan perdagangan karbon.’

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *