Agar Tidak Sekedar ‘Mainan Baru’

Dalam proses-proses pelatihan dan pengembangan sistem pangkalan data dan informasi desa untuk para aparat pemerintahan dan warga desa selama ini, tim fasilitator dari organisasi-organisasi anggota dan mitra INSIST sudah menggunakan berbagai alat dan teknologi mutakhir. Karena menggunakan aplikasi program komputer Sistem Informasi Geografis (SIG), maka penggunaan alat-alat dan teknologi moderen –antara lain, misalnya, GPS (Geo-positioning System), jaringan internet, distometer (pengukur jarak menggunakan sinar infra merah), PH-meter untuk tanah dan air– juga dilatihkan kepada para warga setempat anggota Tim Pemetaan dan Pendataan Desa. Paling mutakhir, robot terbang (drone) juga mulai digunakan, terutama untuk memetakan dan mengambil gambar kawasan yang sulit dijangkau lewat darat (terutama di desa-desa pedalaman terpencil di luar Jawa) atau terlalu sering terselimuti awan tebal (sehingga citra satelitnya tidak nampak utuh dan jelas).

Dalam rangka memahami fa’al (anatomi)alat bantu canggih tersebut, beberapa anggota inti tim fasilitator jaringan organisasi anggota & mitra INSIST dari Sulawesi, Jawa, dan Sumatera, berkumpul di Kampus Mitra Aksi di Pijoan, Jambi, pada tanggal 11-15 Mei 2018. Mereka berdiskusi dengan pakar drone dan teknologi informasi, Irendra Rajawali, dari Kemitraan Indonesia. Selain berdiskusi, mereka juga melakukan praktik lapangan langsung membantu pemerintah dan warga Desa Pandang Sejahtera, Tanjung Jabung Timur, memetakan bakal kawasan hutan bekas konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI), seluas 13.000 ha, yang dicanangkan oleh pemerintah Provinsi Jambi untuk diserahkan ke warga beberapa desa setempat sebagai bagian dari skema perhutanan sosial. Untuk memetakan kawasan seluas itu, mereka menggunakan ‘pesawat sayap tetap’ (fixed wing drone) yang mampu terbang tanpa henti (non stop) selama 12-14 jam.

Tim Fasilitator Pemetaan dan Pendataan Desa Jaringan INSIST memperhatikanatikan perakitan dorne sayap tetap oleh salah seorang anggota ‘Komunitas Drone’ asal Kalimantan Barat untuk memetakan cadangan kawasan perhutanan sosial di Desa Pandang Sejahtera, Tanjung Jabung Timur, Jambi.
Narasumber (Raja) menjelaskan anatomi drone sayap putar (rotary wings) kepada beberapa anggita Tim Fasilitator Jaringan INSIST (KIRI ATAS); bersama anak-anak kampung Desa Pandang Sejahtera, Tanjung Jabung Timur, menyaksikan drone sayap tetap setelah lepas-landas untuk memulai pemetaan kawasan cadangan perhutanan sosial di desa tersebut (KIRI BAWAH); dan dua anak Kampung Aipiri di Manokwari, Papua, menyaksikan drone sayap putar yang baru saja diterbangkan oleh salah seorang anggota Tim Fasilitator Yayasan Bentara Papua untuk memetakan kawasan pusat pemuliman desa tersebut (KANAN).

Acara diskusi mereka dalam ruangan di Kampus Pijoan berlangsung seru. Meskipun sebagian besar yang hadir adalah para praktisi lapangan, namun perbincangan mereka tidak hanya terbatas pada hal-hal teknis semata. Justru dari rangkaian pengalaman praktis dan nyata selama memfasilitasi warga desa, mereka memunculkan tema-tema mendasar tentang paradigma data dan informasi, mempertanyakan ‘teori-teori arus utama’, dan mempersoalkan ‘politik teknologi dan informasi.’ Mereka semua menegaskan kembali pandangan dan sikap dasar yang dianut dan dikembangkan di jaringan INSIST selama ini, bahwa ‘teknologi adalah dan hanyalah alat, bukan tujuan.’ Contoh nyata yang paling sering dikemukakan adalah fakta bahwa kendala utama dalam proses-proses pemetaan dan pendataan di tingkat komunitas basis adalah justru ‘piranti sosial’ (socialware), bukan perangkat lunak (software), apalagi perangkat keras (hardware). Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa penyiapan ‘piranti sosial’ (kesediaan dan penerimaan warga, kesiapan dan kemampuan aparat pemerintahan desa, pembentukan tim dan persepakatan cara kerja bersama, dan sebagainya) justru membutuhkan waktu jauh lebih lama, bulanan atau bahkan tahunan, dibanding penyiapan perangkat lunak maupun perangkat keras. Dengan alokasi dana desa yang besar selama beberapa tahun terakhir, sebagian besar atau bahkan semua perangkat linak dan perangkat keras yang dibutuhkan dapat segera dan seketika dibeli. Mengajarkan cara menggunakannya juga tidak butuh waktu lama. Dalam waktu rerata 1-2 minggu saja, aparat pemerintahan dan warga desa sudah mampu menguasainya.

Masalahnya adalah banyak program pemerintah, bahkan juga ORNOP, untuk membangun sistem pangkalan data dan informasi desa selama ini, masih tetap bertolak dari ‘logika proyek’, serba ingin cepat selesai dan lebih berorientasi pada hasil akhir, bukan pada proses bagaimana warga seharusnya memahami dan benar-benar mampu melakukannya sendiri, sehingga menghasilkan sesuatu yang jauh lebih penting dan mendasar: produksi pengetahuan! Misalnya, masih banyak yang menekankan pada penyebarluasan data dan informasi desa tersebut ke luar desa (terutama secara on-line), lalu mengabaikan pentingnya justru pemahaman dan pemanfaatannya oleh warga sendiri untuk keperluan perencanaan tata ruang desa dan pengelolaan sumber-sumber penghidupan warga yang terdapat di dalamnya. Inilah sebab utama mengapa sampai sekarang banyak kegiatan perencanaan pembangunan desa sebenarnya tidak didasarkan pada kenyataan atau keadaaan yang sesungguhnya yang ada di desa (evidence based).

Jika cara pandang dan pola kerja semacam itu masih saja terus diterapkan, maka semua perangkat lunak dan keras, secanggih apapun, yang kini sudah masuk sampai ke desa-desa, pada dasarnya dan pada akhirnya hanya akan sekedar menjadi ‘mainan baru’ (new toys) saja. Persis seperti umumnya ‘telepon pintar’ (smartphone) yang kini dimiliki oleh hampir semua orang, bahkan kanak-kanak dan remaja, di desa-desa pedalaman terpencil sekalipun. Sebagian besar dari alat telekomunikasi modern itu bahkan menyuburkan prilaku dan kebiasaan baru konta produktif, bahkan sampai ke pemerosotan nilai-nilai. Banyak orang Suku Anak Dalam (SAD) di kawasan hutan sekitar Taman Nasional Bukit Dua Belas dan Bukit Tiga Belas di Jambi, sebagai contoh, karena ketiadaan sinyal di pemukiman mereka, bahkan membeli dan menggunakan ‘telepon pintar’ hanya untuk mendegarkan musik murahan dan bahkan…. menonton video porno!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *