Belajarlah Mendengar!

“Apa ketrampilan atau kemampuan paling dasar yang harus dimiliki oleh seorang pengorganisir masyarakat?”

“Belajar dan bersabar mendengar!”

Itulah salah satu cuplikan obrolan antara para peserta Pelatihan Penulisan Etnografi untuk Pendamping Masyarakat Adat –pada malam hari Jumat, 27 April 2018 di Kampus PerDikAn, Yogyakarta– dengan salah seorang pendiri dan fasilitator senior INSIST, Roem Topatimasang. Acara obrolan itu sendiri bukan bagian atau pokok bahasan utama dalam acara pelatihan tersebut. Tetapi, karena pelatihannya berlangsung di Kampus PerDikAn, pihak penyelenggara (Kemitraan Indonesia) memanfaatkan kesempatan itu untuk meminta Roem membagi pengalamannya sebagai fasilitator pendidikan kerakyatan dan pengorganisir masyarakat selama lebih 30 tahun di banyak daerah di Indonesia dan beberapa negara Asia Tenggara.

Meskipun demikian, Roem menekankan bahwa justru kemampuan untuk bersabar dan tekun mendengar orang lain, terutama warga masyarakat tempatan di mana seorang pengorganisir bekerja, adalah sangat penting untuk keperluan penulisan etnografi. Ditegaskannya bahwa bahkan dalam dunia akademis, para pakar antropologi pun menegaskan pentingnya ‘mendengar apa adanya’ yang dinyatakan atau diungkapkan oleh warga tempatan untuk mengetahui ‘pandangan dunia’ (world view) mereka yang sebenarnya. “Tapi,” lanjut Roem, “asal tetap bisa menjaga jarak untuk tidak terjebak dalam romantisme berlebihan, misalnya, menjadi ‘persis seperti mereka’ (going native) sehingga menghilangkan daya kritis kita sendiri untuk melihat bahwa mereka juga tidak selalu benar dan tidak selalu sempurna.”

Dalam obrolan informal (santai) sampai tengah malam tersebut, Roem menegaskan kemampuan mendengar (dan menyimak) tersebut semakin penting dan relevan bagi para pegiat gerakan sosial, termasuk para pendamping masyarakat adat, karena pengalamannya selama ini menyaksikan banyak pegiat justru lebih banyak bicara saat berjumpa dengan warga tempatan. Dalam banyak kasus, bahkan cenderung menggurui, mencoba membangun citra dirinya sebagai orang yang ‘serba bisa dan banyak tahu’, terbiasa ‘selalu menjawab semua pertanyaan’ dari warga. Untuk itu, Roem sangat menyarankan sebaiknya pelajaran dasar ‘sikap, prilaku, metode, dan teknik mendengar’ diajarkan lagi secara khusus dalam pelatihan-pelatihan bagi para pegiat gerakan sosial, terutama bagi mereka yang disiapkan untuk berperan sebagai fasilitator dan pengorganisir masyarakat tempatan di tingkat akar rumput. “Berpura-pura tidak tahu atau bahkan mengakui terus terang memang tidak tahu,” lanjut Roem, “bukan dosa sama sekali dan tidak akan masuk neraka.”*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *